cool hit counter

PDM Kabupaten Bogor - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Bogor
.: Home > KONSISTENSI

Homepage

KONSISTENSI

 Khutbah Jumat 1432 H

KONSISTENSI

Oleh:  H. NAUFAL RAMADIAN, M.Si

Al-Awwalien, 23 September 2011 M

 

Hadirin Rahimakumullah ! Suatu hari sahabat Rasulullah, Sofyan bin Abdullah bertanya tentang intisari agama, Rasulullah menjawab : 

قُلْ اَمَنْتُ بِاللهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ             

“Katakan olehmu, aku beriman kepada Allah, lalu bersikaplah konsisten (beristiqamahlah kamu)”

 

Apakah Sikap Konsisten itu ? sikap konsisten berarti suatu sikap tetap, yang tidak berubah, ajeg, selaras perbuatan dan ucapan, tekun dan terus menerus (sustainable growth with meaning), berusaha untuk mencapai cita-cita, berpendirian kuat, berketetapan hati, tidak lekas bosan, apalagi putus asa, representasi dari kekuatan iman. Dengan kata lain, konsistensi berarti sikap Istiqamah, ia merupakan sifat terpuji yang wajib dimiliki oleh setiap muslim, teristimewa di masa modern ini.

Hadirin ! suatu usaha yang besar hanya dapat dicapai dengan sikap konsisten (atau Istiqamah), dengan sikap ini seseorang mempunyai keteguhan pendirian yang tak tergoyahkan dan tak dapat diombang-ambingkan, tidak dapat dipengaruhi oleh kesukaran dan ketakutan, melainkan berpedoman kepada niatnya yang teguh dan imannya yang kuat. Islam tidak akan dapat berkembang dan meraih kemenangan jika Rasul dan para sahabat, jika ulama dan umatnya,  tidak memiliki konsistensi, sifat Istiqamah dalam perjuangannya.

 

Hadirin !  Ketika kaum musyrikin membujuk abu Bakar untuk mengakui bahwa Allah itu Tuhan dan Malaikat itu anaknya, dan ketika orang Yahudi membujuknya untuk mengakui bahwa Allah sebagai Tuhan dan Uzair sebagai anak Allah, sedang Muhammad itu bukan Nabi yang sebenarnya, maka sedetik-pun pendirian Abu Bakar tidak goyah, dia tetap Istiqamah, ajakan dan bujukan dia tolak mentah-mentah. Imannya tidak lapuk karena bujuk, tak lekang karena rayuan, sehingga turunlah firman Allah dalam  Al-Qur’an surat Fushshilat, ayat  30 :

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qä9$s% $oYš/u‘ ª!$# §NèO (#qßJ»s)tFó™$# ãA¨”t\tGs? ÞOÎgøŠn=tæ èpx6Í´¯»n=yJø9$# žwr& (#qèù$sƒrB Ÿwur (#qçRt“øtrB (#rãÏ±÷0r&ur Ïp¨Ypgø:$$Î/ ÓÉL©9$# óOçFZä. šcr߉tãqè? ÇÌÉÈ  

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami ialah Allah’, kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan) : “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih, bergembiralah kamu dengan surga yang dijanjikan Allah kepadamu”

 

Sifat Istiqamah yang demikian luhur, tentu saja tidak akan muncul begitu saja tanpa ada usaha keras mewujudkannya, karena ia mudah dikatakan tapi sulit dipraktekkan. Kita wajib berjuang menegakkan sifat Istiqamah dalam diri kita masing-masing, dan tidak boleh lengah sesaat-pun. Karena kelengahan berarti bahaya bagi mutu hidup, kita akan terseret arus kehidupan, terhempas bagai buih dibuncah gelombang.

 

Hadirin Rahimakumullah! Bagi kita kemelaratan dan kesengsaraan bukanlah ketiadaan harta benda, melainkan ketiadaan Istiqamah dalam diri kita. Sebaliknya dengan Istiqamah, perjuangan hidup yang berat ini-pun akan berakhir dengan sukses :

Èq©9r&ur (#qßJ»s)tFó™$# ’n?tã Ïps)ƒÌ©Ü9$# Nßg»oYø‹s)ó™V{ ¹ä!$¨B $]%y‰xî ÇÊÏÈ  

 “Bila mereka tetap Istiqamah menempuh jalur-jalan itu, pastilah akan kami beri minum mereka, dengan air yang sejuk” (QS. Jin : 16)

 

Hadirin Sidang Jum’ah Rahimakumullah!

H. Iskandar Idris, pengarang tafsir Hibarna, mengatakan :

اِنْدُوْنِسِيَّا اَكْبَرُسُوْقٍ فِيْ العَا لَمِيْنَ

Indonesia adalah pasar terbesar di dunia (The Biggest Market In The World),  pasar tempat lalu-lintas perekonomian dunia, buktinya, apapun yang diperjualbelikan disini selalu laku, laris dan disambut secara antusias oleh para peminatnya, bahkan bukan cuma kebutuhan material yang laku keras, melainkan kebutuhan non-material pun mendapatkan pasaran yang laris pula, bukan hanya barang yang halal yang diminati, yang haram-pun laku dijual :

 

(1)          Faham Aliran Sesat; Ahmadiyah, AL-Qiyadah

(2)          Sekularisme, Liberalisme

(3)          Nativisme (klenik, perdukunan, kebatinan)

(4)          Kapitalisme, Materialisme

(5)          Sosialisme, Komunisme

(6)          Humanisme

(7)          Nasionalisme

(8)          Zionisme, Eksistensialisme

(9)          Pragmatisme; semua Isme yang baik dan buruk, diminati dan laku-keras diperjualbelikan di  Pasar Terbesar Indonesia ini.

(10)      Demikian pula industri pornografi, narkotika, budaya destruktif, yang tidak bertanggung-jawab, berlomba menawarkan dan mengasongkan dagangannya secara menggebu-gebu, yang celakanya, laris pula di pasaran ini.

(11)      Yang lebih mengerikan lagi  tentu, merajalelanya sesuatu, yang dulu hampir mustahil terjadi,  tapi sekarang sudah mulai kita saksikan di sana-sini, yakni terjadinya fenomena Jual Beli  AQIDAH (Bursa Iman), begitu gampangnya seseorang melepas sesuatu yang paling berharga, hanya karena alasan yang sepele,  padahal :

 

لَاشَئٌ اَعْلَئ مِنَ الْاِيْمَانِ

 

Tidak ada sesuatupun yang paling berharga selain daripada IMAN,  ternyata yang paling mahal dan paling berharga bagi kehidupan seorang muslim ini pun, tega-teganya diperjualbelikan, hanya karena mengharapkan kesenangan sesaat yang sifatnya nisbi dan temporer, padahal :

 

Kehilangan kesehatan berarti kehilangan sedikit

Kehilangan kehormatan berarti kehilangan banyak

Kehilangan Iman berarti kehilangan segalanya

 

Hadirin Rahimakumullah ! Di era serba krisis sekarang ini, kita dituntut untuk berkurban, bukan saja berkurban harta benda, melainkan juga berkurban fikiran, tenaga, waktu, dan perasaan.

 

ôQr& ÷Läêö7Å¡ym br& (#qè=äzô‰s? sp¨Yyfø9$# $£Js9ur ÉOn=÷ètƒ ª!$# tûïÏ%©!$# (#r߉yg»y_ öNä3ZÏB zNn=÷ètƒur tûïΎÉ9»¢Á9$# ÇÊÍËÈ  

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad/berkurban diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar.               (Ali-Imran: 142)

 

Maka, Hadirin ! Dalam situasi, kondisi dan posisi apapun, satu hal yang tidak boleh kita kurbankan adalah; kita diharamkan mengurbankan IMAN, diharamkan menyengsarakan-nya, apalagi memperjual-belikannya, menukarnya dengan sejumlah uang, mie instan, atau sekantung sembako!

 

Hadirin ! Era informasi, industrialisasi dan globalisasi sekarang ini, terkadang membawa kurban bagi mereka yang tipis Iman. Akal, ilmu dan teknologi diberi peluang, budaya jahiliyah digelar untuk mempertunjukkan nafsu syahwat hayawaniyah, sedangkan di sisi lain  Iman ditelantarkan, dipasung, dimasukkan kedalam laci lemari, lalu dikunci rapat-rapat, akibatnya hidup menjadi berat-sebelah, tidak terkendali,  akhirnya terperosok pada dunia FATAMORGANA, dunia yang secara lahiriyah, glamor-hedonistik, namun hakikatnya nihil, nothing,  tidak ada apa-apanya.

Hadirin! Kita sering mendengar berita, bahkan mungkin menyaksikan sendiri di tayangan televisi, bahwa telah terjadi krisis manusia modern, manusia yang kehilangan jati diri, sukses di kehidupan dunia namun tidak dibarengi dengan ketangguhan IMAN, akhirnya hanya akan melahirkan manusia yang memiliki kepribadian terpecah (split personality) cengeng, konyol yang terperangkap oleh beragam penyakit masakini : stress, depresi yang kemudian tak jarang diakhiri dengan upaya bunuh diri. Ketika salah seorang yang akan melakukan bunuh diri, itu dapat diselamatkan,  dan ditanyai, mengapa harus nekat berlaku bodoh seperti itu. Jawabannya cukup mengejutkan :  “saya tidak tahu lagi untuk apa saya hidup..

 

I can swim at the sea, like a fish (saya mampu berenang di laut seperti ikan)

I can fly in the air, like a bird  (saya bisa terbang di udara seperti burung)

But I can’t alive happily, on the earth” (Tapi, saya tak bisa hidup bahagia di dunia)

 

“(pisau) tak tahu akan (tumpulnya), Udang tak tahu akan Bungkuknya,

Busuk tak tahu akan Baunya, Manusia tak tahu akan Tujuan  Hidupnya

Inilah yang disebut dis-orientasi hidup kesalahan memaknai tujuan hidup, ironi kehidupan yang patut diwaspadai! Oleh karena itu, kita yang tahu akan makna hidup, bersiaplah menyelamatkan diri dan menyelamatkan umat, yang membutuhkan panduan hidup :

كُنْ زَعِيْمَ النَاسِ اِنِ اسْتَطَعْتَ

Jadilah pemimpin bagi  banyak orang,  jika engkau sanggup (agar mereka tidak tersesat)”

 

فَانْ عَجِزْتَ فَكُنْ زَعِيْمَ نَفْسِكَ

Jika tak bisa memimpin orang banyak, pimpin-lah dirimu sendiri (jika diri-pun tak bisa, maka jadilah segerombolan domba yang tersesat di belantara serigala, dan yang terakhir ini bukanlah sifat Istiqamah!)

 

Menyerah kepada takdir, tanpa ikhtiar bukanlah ajaran Islam, membiarkan diri dalam derita dan putus asa bukanlah Istiqamah, membiarkan umat dan bangsa nestapa,  terombang-ambing oleh ketidakpastian hidup, bagaikan buih diterjang gelombang,  diterkam isme, dimangsa para koruptor, bukanlah jati diri Islam. Marilah kita terus berusaha dan berdoa kiranya umat dan bangsa ini diberi kekuatan untuk Istiqamah, diampuni oleh Allah SWT dan bangkit dari keterpurukan.

 Baarakallahulii wa lakum bil-qur’aanilkarim..

 


Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website