cool hit counter

PDM Kabupaten Bogor - Persyarikatan Muhammadiyah

 PDM Kabupaten Bogor
.: Home > Sejarah

Homepage

Sejarah

Bogor (Kabupaten-Kota Bogor dan Depok, )

 

(1)      Bermula di Jasinga

Menurut Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyan Kabupaten Bogor (Periode 2000-2005) K.H. Adang Qomaruddin, BA, kedatangan Muham­madiyah (dalam arti pemahaman keagamaannya) ke wilayah Bogor, sudah dirintis sejak tahun 1925-an, dimana peresmian berdirinya Pim­pinan Muhammadiyah di Bogor dimulai di kecamatan Jasinga, pada tahun 1926,  dengan status Pimpinan Ranting (Group) dari Cabang Batavia. Penuturan ini diperetgas pula oleh H. Asikin Sonhadji maupun Mahyudin Kahar, yang keduanya pernah menjabat Sekretaris Pimpinan Muhammadiyan Wilayah Jawa Barat dalam periodisasi yang berbeda.

Kemunculan Muhammadiyah di Jasinga kemudian diikuti pula dengan kelahiran Ranting (Group) Muhammadiyah Leuwiliang yang berdiri secara resmi melalui Surat Ketetapan Pim­pinan Pusat Muhammadiyah Nomor 168 tanggal 15 Agustus 1928 dengan susunan pengurus :

Ketua                                                   : Moh. Nur

Sekretaris                                           : Ace Tabrani

Bagian Pengajaran                          : Asep Mujtaba

Bagian PKU                                        : Abd. Manan

Bagian 'Aisyiyah                               : Maemunah

 

(2)      Berlanjut ke Leuwiliang

Kehadiran Muhammadiyah di Leuwiliang ini diprakarsai oleh Kyai Asep Mujtaba, seorang alumnus Al Irsyad Jakarta yang juga kenal dekat dengan Yunus Anis, yang di kemudian hari termasuk salah seorang anggota Pimpinan Pusat Muhamma­diyah. Kyai Asep Mujtaba adalah warga Jasinga yang mendapat pasangan hidup yang berasal dari Leuwiliang, diperkirakan, pemrakarsa pendirian Muhammadiyah di Jasinga pun adalah Kyai Asep Mujtaba sendiri,  mengingat latar-belakang pergaulannya yang cukup luas. Selain sebagai aktifis Muhammadiyah, ia juga pernah menjabat sebagai Wedana Jasinga, dan sempat menimba ilmu pengetahuan di Al Irsyad Jakarta (yang gerakan­nya memiliki beberapa kesamaan dengan gerakan Muhammadiyah) sehingga menambah luas spektrum pergaulannya.

Amal Usaha  Muhammadiyah yang pertama di Leuwiliang adalah Mesjid Al-Awwalien, yang merupakan Mesjid Jami (Besar) pertama di Leuwiliang, dan karena itu pula diberi nama Al Awwalien, yang berarti yang pertama. Bukan saja pertama dalam arti fisik, tapi dari mesjid ini pula banyak terobosan yang dilakukan oleh warga dan Pimpinan Muhammadiyah; seperti kepeloporan dalam distribusi  zakat Fitrah, pembagian daging Qurban, pelaksanaan penyelenggaraan Shalat Iedul Fitri dan Iedul Adha maupun penyantunan terhadap anak yatim kurang mampu.

Atas kesungguhan dan ketauladanan para aktifisnya, pergerakan Muhammadiyah mendapat sambutan yang cukup hangat,  baik dari kalangan masyarakat umum maupun dari organisasi kemasyarakatan lainnya. Tidaklah mengherankan apabila dalam waktu singkat berdiri pula ranting-ranting Muhammadiyah di beberapa desa wilayah kecamatan Leuwiliang dan sekitarnya, antara lain : Cibeber, Puraseda dan Cibitung (Keca­matan Pamijahan). Muhammadiyah Leuwiliang sendiri berubah menjadi cabang melalui Surat Ketetapan Pimpinan Pusat  Muhammadiyah, dengan nomor surat : 603, tertanggal 13 Desember 1936.

Dalam berita “Soeara Pemuda Muhammadiyah Djawa Barat”,  edisi 3 tahun 1937, halaman 46, diberitakan bahwa pelantikan Muhammadiyah Cabang Leuwiliang berlang­sung pada tanggal 15/16 Mei 1937. Masih menurut majalah tersebut, pada tahun 1937, di karesidenan Bogor telah berdiri pula cabang-cabang Pemuda Muhammadiyah, di Bogor dan Cianjur. Bahkan dalam Sejarah Muhammadiyah Sukabumi yang disusun oleh Ruyatna Jaya, Cabang Muhammadiyah Sukabumi pada masa berdirinya,  berada di bawah binaan PMD (baca : Pimpinan Muhammadiyah Daerah) Bogor yang mana pada saat itu wilayah Kabupaten Bogor dan Kota Depok masih dalam satu pemerin­tahan Kota Bogor. Bahkan di Arsip Nasional tersimpan Lembar notulensi hasil keputusan Konferensi Muhammadiyah Daerah Ja­wa Barat ke VII, yang secara jelas mencantumkan bahwa konfe­rensi itu berlangsung pada tanggal 11-13 Mei 1940 bertempat di Bogor, hanya saja tidak ada keterangan lebih spesifik dimana dan di gedung apa konferensi tersebut berlangsung.

Menurut catatan KH. Adang Qomaruddin, BA, posisi Ketua Pimpinan daerah Muhammadiyah Bogor (Gabungan Kodya/Kabupaten Bogor dan Depok) adalah sebagai berikut :

1)    Suyono

2)    E. M. Kahfi,

3)    Ir. Priyono, H. Sentono

4)    H. Agus Idris,

5)    Dr. H. Wadi Masturi, SE., MM.

6)    R. Dicky Priatman.

 

seiring dengan tuntutan zaman, telah terjadi babak baru  terjadi pemekaran wilayah tak terkecuali di Bogor,

 

 

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Bogor

 

Pasca kepe­mimpinan R. Dicky Priatman, terjadi pemekaran Wilayah Bogor men­jadi Kabupaten dan Kota, maka secara keorganisasian, persyarikatan Muhammadiyah pun berupaya menyesuaikannya dengan membagi antara PDM Kota Bogor dan PDM Kabupaten Bogor.  

Dimulai sejak periodisasi 1995-2000, Muhammadiyah Kota Bogor selepas kepemimpinan R. Dicky Priatman, dijabat oleh Drs. H. Ahmad Arif Amin, dilanjutkan oleh Drs. K.H. Muhyiddin Djunaedi, MA (2000 - 2005), dengan kepengurusan lengkap sebagai berikut : Drs. KH. Muhyiddin Djunaedi, MA., Darmawan Budianto, Ir. Dudung Abdul Malik, MBA., Agus Syarifudin, BA., Maman Rahman, Drs. Madropi,        Drs. Kadar Sugandi, Drs. Tb. Moch. Zaenal Al-Aqili, dan Mahdum Rasyid, SH.

 

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor

 

Sedangkan untuk Muhammadiyah Kabupaten Bogor (yang merupakan daerah pemekaran dari PMD Kabupaten dan Kota Bogor tersebut), sejak Musyda tahun 1996 di Leuwiliang,  telah memberikan mandat kepada KH. Adang Qomaruddin, BA, sebagai Ketua pada periode 1995-2000, dan dilanjut periode kedua 2000-2005.

Pada periode 2000-2005,  susunan kepengurusannya terdiri dari KH. Adang Qomaruddin, KH. Maliuddin, Drs. M. Yusuf, Drs. Duduh Nur­zaman, Ir. Yuyud Wahyudin, Drs. H. Basri Iba Asghary, Drs. H. Zaenudin, Drs. Iman Saefurrahman, S.Ag., Dadang Chaerul Anwar, KH. Asep Matien, BA., Naufal Ramadian, S.Ag., H. Hardjani dan H. Guntur Prayitno.

Setelah kepemimpinan KH. Adang Qomaruddin berakhir, Jabatan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor dipercayakan kepada H. Naufal Ramadian, M,Si yang terpilih secara demokratis pada Musda XI tahun 2006, di Cisarua Bogor (periode 2005-2010) yang merupakan putera ke-3 KH. Adang Qomaruddin, BA. Dilanjutkan periode 2010-2015, melaui Musda Muhammadiyah Kabupaten Bogor ke-XII, masih mengamanatkan kepada H. Naufal Ramadian, M.Si untuk melanjutkan kepemimpinan Muhammadiyah Kabupaten Bogor. Di periode kedua ini-lah telah berdiri megah Gedung Kantor PDM Kabupaten Bogor, berlantai tiga, di Jl. Raya Leuwiliang No. 106 Leuwiliang-Bogor.

 

 

Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok

 

Selain Kabupaten Bogor, lima tahun sebelumnya (1995), sejak Depok berstatus sebagai Kota Administratif beberapa cabang yang ada di wilayah Depok membentuk Pimpinan Daerah Muham­madiyah yang secara resmi ditetapkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada tanggal 8 Desember 1990.

Untuk menelusuri sejarah pendirian Muhammadiyah di Kota Depok, nampaknya tidak bisa lepas dari sosok Muthalib Usman. Beliau adalah seorang otodidak yang pengetahuan dan pemahaman keagamaannya justru banyak digali sendiri dari berbagai literature,  disamping luasnya interaksi dengan para ulama.

Perkenalannya dengan pergerakan Muhammadiyah diawali dari hubungan persahabatannya dengan Syuaib Al-Wahidi, yang berasal Bari Tomang-Jakarta. dari perkenalannya kini M. Usman berkenalan pula dengan beberapa orang tokoh Muhammadiyah di Jakarta yang mengantarkannya pula untuk mengikuti Muk­tamar Muharnmadiyah ke-32 di Purwokerto tahun 1953. Ketika itu M. Usman hanya berstatus sebagai peninjau.

Sekembalinya dari mengikuti perhelatan akbar Muhamma­diyah itu, Muthalib Usman mulai merintis pendirian ranting Muhammadiyah di Kukusan, kampung halaman sekaligus tempat mengabdikan dirinya kepada masyarakat melalui aktifitas­nya di madrasah yang ia dirikan dan dikelola sejak tahun 1940. Di kampung Kukusan inilah ia merintis pergerakan Muhammadi­yah sebagai bagian dari group Muhammadiyah Tanah Abang-Jakarta. Untuk mengenang jasa-jasanya, jalan Raya Kukusan Rini telah diganti dengan nama KH. M. Usman.

Setelah memiliki dua ranting, yaitu ranting Kukusan dan Srengseng, bersama Kamaludin, Camat Depok yang berasal dari Jasinga, ia berupaya mendirikan cabang. Menurut Surat Kepu­tusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor 1514/A, tanggal 30 September 1961, berdirilah Pimpinan Muhammadiyah Cabang Depok dengan susunan pengurus sebagai berikut :

Ketua                    : Kamaludin (Camat Depok)

Wk. Ketua           : M. Usman

Sekretaris           : Rainan (Juru tulis Camat Depok)

Bendahara          : M. Pasir

Komisaris            : Abdul Khalik (Opas camat Depok)

 

Sehubungan Kamaludin dialih-tugaskan ke daerah lain, secara otomatis kepemimpinan cabang Muhammadiyah Depok jatuh ke tangan Muthalib Usman. Di periode M. Usman memim­pin Muhammadiyah cabang Depok,  ia berhasil mengembang­kan sayap dengan pendirian ranting yang cukup menjamur.

"Pada perkembangan berikutnya, dengan diresmikannya Depok sebagai Kota Administratif,  maka berdirilah Pimpinan Daerah Muham­madiyah Depok yang memiliki empat cabang, yaitu : Beji, Depok Barat, Pancoran Mas, dan Cimanggis/Sukmajaya. Cabang Beji, Depok Barat dan Pancoran Mas adalah pengembangan/peme­karan dari Cabang Muhammadiyah eks Kecamatan Depok. Se­dangkan Cabang Cimanggis/Sukmajaya, telah berdiri sebelum pemekaran Cabang Depok yang sebelumnya merupakan binaan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bogor" (Abidin, 2001 : 13). Belakangan, karena merupakan bagian dari wilayah Kota Depok, cabang Muhammadiyah Sawangan pun bergabung dengan PDM Depok setelah lama berada dalam binaan PDM Jakarta Selatan.

Muhammadiyah Daerah Depok berdiri tahun 1990, dengan Surat keputusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, nomor: 36/PP/1990, tanggal 21 Jumadil Awal 1411 H, bertepatan dengan tanggal 8 Desember 1990. Pada saat itu kepemimpinan masih dipercayakan kepada K.H. M. Usman sebagai Ketua. Sedangkan periode selanjutnya jabatan Ketua PDM dipercayakan kepada Drs. H. Farkhan AR (1995 - 2000). Setelah dari putra Pak AR Fakhruddin ini, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Depok tersusun sebagai berikut H. Wazir Nuri, S.Ag., Drs. H. Farkhan Ar., Drs. M. Achmadi Yusuf, Drs. H. Mun. Muslim, H. Zaenal Abidin, S.Ag., Drs. H. Edi Damannuri, H. M. Syamsudin, Drs. H. Muhammad Arifin, MM., Drs. Syahminan Lubis, Syamsudin MP., dan Dr. Ir. Muchdie, MS., PG., Dipl. RD.



Berita

Agenda

Pengumuman

Link Website